Friday, 16 January 2015

Senjata Cinta yang Merusak Hubungan Kekasih

Dalam keadaan putus asa, orang orang sekarang mulai menggunakan cara negatif untuk memaksakan pasangan mereka agar lebih mencintai mereka. Mereka menyembunyikan kasih sayang dan juah secara emosi. Mereka menjadi lekas cepat marah dan suka mengkritik dan menghujat pasangan. Mereka menyerang dan menyalahkan pasangan, dengan harapan agar pasangannya menjadi lebih mencintai mereka. Padahal hakekatnya merekaadalah orang yang putus asa terhadap diri mereka sendiri. Mereka akan mengatakan “Mengapa kau tidak ...?”, “Mengapa kau selalu...?” “bagaimana mungkin kau tak pernah ..... padaku?”. Mereka melemparkankalimat-kalimat tersebut sebagai upaya putus asa untuk mendapatkan kehangatan dan tanggapan dari pasangan.  Mereka percaya bahwa dengan cara-cara tersebut mereka akan medapatkan respon positif dan pasangan akan kembali mencintai mereka seperti dulu. Padahal hal yang sebenarnya terjadi malah semakin buruk. Oleh karena sangat penting memahami hati wanita pasangan anda. Baca http://hatiwanita.com untuk mendapat lebih mengerti tentang pribadi wanita dan mendapatkan cintanya.
Apa yang membuat mereka percaya bahwa dengan menyakiti perasaan pasangan mereka bakal membuat mereka bersikap lebih menyenangkan? Mangapa mereka tidak mengatakan saja dalam bahasa yang mudah bahwa mereka menginginkan kasih sayang yang lebih, perhatian, hubungan badan, serta kebebasan atau apapun yang mereka inginkan? Kalaupun pertanyaan ini ditanyakan kepada mereka maka ditanyapun tidak akan bisa menjawab secara pasti. Malah akan seolah diserang balik dan kembali menyalahkan kekasihnya kembali.  
Apakah ini cinta monyet yang sejati?

Ternyata hal ini merupakan pola komunikasi kuno yang telah tertanam sejak kita lahir. Ketika masih bayi, semua bayi di dunia akan mengkomunikasikan apa yang diinginkan dengan pola yang sama yaitu tangisan dan teriakan. Walaupun bayi bisa tersenyum dan tertawa namun bila mereka bakal tertawa ketika dibuat tertawa. Sedangkan bila bayi merasa tidak nyaman, merasa membutuhkan, menginginkan sesuatu maka pola yang dipakai adalah ciri komunikasi berupa tangisan dan teriakan. Dan sayangnya, ketika pola ini terjadi si bayi akan menyadari bahwa semakin keras menangis dan berteriak maka orang tua akan semakin cepat menganggapi dan memenuhi keinginan bayi agar menjadi tenang. Bayi tidak diajarkan untuk mengatakan apa yang dia inginkan ketika ia merasa tidak nyaman. Kondisi ini diperparah oleh didikan orang tua , yang semestinya mendidik anak dengan komunikasi yang baik malah  orang tua terlalu memanjakan anak dan terlalu takut dan kalah bila si anak mengeluarkan jurus merengek, menangis keras atau berteriak-teriak.
Tentu pola-pola komunikasi kuno seperti ini salah dan merusak komunikasi bila terus-terusan dipakai  ketika kita dewasa. Cara kuno untuk menunjukan kegelisahan ini banyak digunakan oleh para pasangan yang tenggelam dalam kekuatan untuk berjuang. Ketika pasangan tidak saling mengatakan apa yang mereka inginkan dan terus saling mengkritik karena tidak mengetahui keinginan mereka , tidak mengherankan jika perasaan cinta bekerja sama untuk menghilang dan menjauh. Dan  bila hal ini dibiarkan maka pasangan akan merasa lebih nyaman dengan kesendirian dan urusan masing-masing. Dan hasil akhirnya adalah perpisahan dan perceraian.

Sebagaian pasangan terus berada dalam keadaan yang marah dan bermusuhan untuk selamanya. Mereka mengasah kemampuan mereka untuk menembus pertahanan pasangannya dan menyakiti hati pasangannya. Lantaran sering dilakukan, maka kemarahan meledak dan menjadi kekerasan. Inilah awal dari terjadinya KDRT.

Solusi masalah ini memang tidak mudah kerena pokok masalahnya adalah ada pada pola komunikasi dasar yang salah dan sudah lama dipakai sejak lama. Ego perasaan yang merasa ingin selalu didahulukan dan tidak mau mengerti orang lain alias egois.

Langkah awal dari solusi ini adalah mengerti terhadap diri sendiri bahwa apa yang dilakukannya tidak benar dan bisa membawa kerusakan pada hubungan. Masalahnya tidak semua orang mau mengakui dan mengerti bahwa cara-cara yang ia gunakan untuk memperjuangkan cintanya adalah salah. Malah ia merasa benar dan merasa doserang karena disalahkan. Padahal ia lakukan hanya cukup satu hal saja, yaitu belajar merubah pola komunikasi dari yang awalnya menyalahkan dan mengkritik menjadi komunikasi yang jelas dan ramah.